Tato (Titi) Suku Mentawai
Suku Mentawai merupakan salah satu suku yang terdapat di Indonesia
bagian barat. Tepatnya di kepulauan Mentawai sebelah barat Sumatra Barat. Pada
kepulauan Mentawai ini terdapat tiga pulau besar yaitu; Siberut, Sipora, dan
Pagai serta sekitar 40 pulau kecil. Nenek Moyang suku Mentawai diperkirakan
datang ke Pulau Siberut sekitar 3.000 tahun yang lalu.
Suku Mentawai mempunyai ciri-ciri fisik berkulit kuning, mata
cenderung menyipit, rambut lurus dan tubuh pendek. Selain itu suku Mentawai
juga memiliki ragam kebudayaan antara lain yang menjadi identitas mereka ialah
seni mentato tubuh yang biasanya dijadikan sebagai upacara inisiasi (peralihan
masa kanak-kanak ke masa remaja) bagi laki-laki dan perempuan di suku Mentawai.
Setiap tato (titi) yang diukir pada
tubuh suku Mentawai memiliki makna yang berbeda dan sangat khas sebagai sebuah
simbol-simbol tertentu.
Rumusan Masalah : Tato (titi)
pada Suku Mentawai.
Pembahasan
Tato pada suku Mentawai merupakan sebuah kebudayaan yang sudah
menjadi identitas bagi mereka sebagai masyarakat asli suku Mentawai. Titi merupakan sebutan suku Mentawai
terhadap lukisan atau rajah pada tubuh mereka. Pembuat titi di kepulauan
Mentawai disebut dengan Sipatiti sedangkan
bahan untuk membuat titi disebut batiti.
Orang Mentawai sudah menato
badannya sejak kedatangan mereka ke pantai barat Sumatera.
Salah satu kedudukan tato adalah untuk
menunjukkan jati diri dan perbedaan status sosial atau profesi. Tato dukun (Sikerei), misalnya, berbeda dengan tato ahli berburu. Ahli berburu dikenal
lewat gambar binatang tangkapannya, seperti babi, rusa, kera, burung atau
buaya. Sikerei diketahui dari tato bintang sibalu-balu di badannya (Setiawan, 2012).
Titi dibuat dengan cara menusukkan (cacah atau rajah) jarum (pada
zaman dahulu menggunakan duri dari pohon jeruk) pada kulit tubuh. Setelah kulit
terkelupas, selanjutnya dimasukkan bubuk hitam dari arang pohon damar atau
tempurung kelapa dan dibiarkan mengering (Marthen).
Kepercayaan masyarakat Mentawai dalam membuat titi pada tubuhnya
ini disebut dengan sebuah kepercayaan yang dinamakan Arat Sabulungan. Arat
Sabulungan merupakan sebuah kepercayaan yang menganggap bahwa alam dikuasai
oleh dewa-dewa yang ada di langit, bumi, dan di bawah bumi. Arat Sabulungan dipakai
dalam setiap upacara kelahiran, perkawinan, pengobatan, pindah rumah, dan
penatoan. Ketika anak lelaki memasuki akil balig, usia 11-12 tahun, orangtua
memanggil Sikerei dan Rimata (kepala suku). Mereka akan berunding menentukan
hari dan bulan pelaksanaan penatoan (Setiawan, 2012)
Bagi masyarakat Mentawai,
tato juga memiliki fungsi sebagai simbol keseimbangan alam. Dalam masyarakat
itu, benda-benda seperti batu, hewan dan tumbuhan harus diabadikan di atas
tubuh. Fungsi tato yang lain adalah
keindahan. Masyarakat Mentawai juga bebas menato tubuh sesuai dengan
kreativitasnya (Marthen)
Pada titi suku Mentawai
memiliki motif-motif khas yang mengandung nilai seni, kreatifitas dan inovasi
yang tinggi seperti halnya terdapat 7 (
tujuh ) macam motif standart pada tubuh laki-laki dan 3
macam motif standart pada perempuan Mentawai yang masing-masing motifnya pada
tiap bagian tubuhnya memberikan simbol-simbol penghormatan terhadap roh-roh dan
agama Arat Sabulungan. Seperti halnya motif tato Durukat terletak di bagian
dada yang merupakan simbol jati diri suku sekaligus menandakan batas wilayah
kesukuan. Seperti suku Sempungan di Uma Sempungan berbeda dengan Sirilogui di
Siberut Utara. Motif tato Soroi merupakan unsur pada bagian tato utama, yang
dipakai oleh kaum pria. Soroi diciptakan oleh masyarakat tradisional Mentawai,
didasarkan atas pengamatan bulu ekor ayam yang indah.
Titi pada
suku Mentawai ini mengandung pigmen karbon warna hitam yang terbuat dari
bahan-bahan alami serpihan-serpihan dari jelaga yang bisa didapatkan dari kayu
atau tempurung kelapa.
Titi pada
masyarakat Mentawai sangat mengandung nilai-nilai budaya yang dapat dijadikan
sebagai salah satu unsur kebudayaan bangsa Indonesia. Titi suku Mentawai
mengandung sebuah nilai pengetahuan. Dimana titi tersebut merupakan sebuah
kebenaran bahwa merupakan sebuah kesenian yang berasal dari Sumatra Barat,
Indonesia. Selain itu juga sangat inovatif karena pada titi terdapat beragam
motif dan dijadikan referensi bagi masyarakat lain yang menginginkan tubuhnya
ditato. Selain itu juga bagi suku Mentawai titi memiliki nilai sebagai harga
diri mereka sebagai salah satu bagian dari suku Mentawai.
Titi
Mentawai sangat mengandung nilai seni yang tinggi karena bagusnya bentuk ukiran
(motif) titi tersebut yang tidak ada duanya.
Bersifat halus, dinamis dan berbentuk teratur. Titi juga sangat erat
kaitannya dengan nilai religi bahwa dengan adanya titi pada tubuh setiap
masyarakat Mentawai berarti mereka telah mempercayai, setia dan menghormati
para leluhurnya. Titi Mentawai juga mengandung nilai ekonomis karena bahan
pembuatnya dapat diambil dari alam sehingga tidak membutuhkan biaya yang mahal.
20.47 |
Category: |
0
komentar




Comments (0)